Monday, August 17, 2015

Menanggung Resiko


Ayat bacaan : 2 Timotius 2:8-10; Mazmur 9:12 “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal” (2 Timotius 2:10).

Ekspedisi Kon-Tiki merupakan perjalanan maut yang mendebarkan. Bagaimana tidak, perjalanan di atas samudera luas dengan hanya mengandalkan perahu rakitan yang terbuat dari 9 batang kayu yang diikat menjadi satu, pastilah membutuhkan keberanian dan motivasi tersendiri. Enam orang awak memulai petualangannya dari Callao di Peru pada tanggal 28 April 1947 dan mendarat di Pulau Raroia di Polynesia setelah 101 hari. Film dokumenternya meraih Oscar pada tahun 1951 dan bukunya telah diterjemahkan ke dalam 66 bahasa. Dalam buku Kon-Tiki: Across the Pacific by Raft (Kon-Tiki: Menyeberangi Pasifik dengan Rakit), Thor Heyerdahl mengisahkan perjalanannya bersama kelima awaknya itu. Dalam perjalanan itu mereka mengambil kesimpulan bahwa apa saja yang telah jatuh ke dalam laut, pastilah tidak dapat diambil lagi.

Dua bulan setelah mengarungi perjalanan di tengah lautan, Herman Watzinger kehilangan keseimbangan dan jatuh ke laut. Rakit yang terombang-ambing oleh angin besar dengan gelombang lautan besar pula semakin memperburuk keadaan Watzinger. Ia sulit berenang mencapai rakitnya. Kelima temannya hanya bisa memandang tanpa tahu apa yang harus dilakukannya. Mereka berusaha melemparkan pelampung beserta tali, namun gelombang lautan menenggelamkannya lagi. Tiba-tiba Knute Haugland mengambil pelapung dan tali itu lalu mencebur ke laut. Ia berenang dan menyelam menghampiri kawannya yang tampak amat kelelahan itu. Ia lalu mengikatnya dengan tali lalu mendorongnya ke rakit. Selamatlah ia! Apa yang dilakukan oleh Knute Haugland adalah risiko besar. Benar. Ia sendiri dapat tewas oleh gelombang lautan.

Tetapi kalau ia tidak mengambil risiko itu, temannya pastilah tenggelam. Harus ada risiko yang diambil untuk menyelamatkannya. Dan ia mau melakukannya. Prinsip itu pula yang dilakukan oleh Paulus. Ia menanggung risiko: dianiaya, didera, diancam, dan berbagai macam intimidasi lainnya dilakukannya, supaya ia dapat memenangkan jiwa sebanyak mungkin. Bagaimana dengan Anda?

Renungan: Memberitakan Injil itu memang berisiko. Dan celakanya, gereja Tuhan sendiri sepertinya enggan untuk mengambil risiko ini. Mereka sudah nyaman dan tidak mau diganggu lagi. Akhirnya mereka mengabaikan amanat agung Tuhan Yesus Kristus, yaitu: Pergi dan beritakanlah Injil! Yesus mau menanggung risiko untuk menyelamatkan Anda, apakah Anda mau berisiko bagi Dia?

No comments:

Post a Comment