Ayat Bacaan : Yakobus 1:5-8; Amsal 20:27 ”Sebab orang yang mendua hati [KJV; a double minded man – orang yang pikirannya ganda] tidak akan tenang dalam hidupnya” (Yakobus 1:8).
Double-minded [pikiran bercabang] dalam bahasa Yunani adalah dipsuchos artinya ”jiwa yang ganda” berasal dari kata dis [yang berarti: dua kali]dan psuche [yang berarti: jiwa]. Jadi sebenarnya bukan hanya pikiran saja yang bercabang atau berubah-ubah tetapi kemauan dan perasaan juga berubah-ubah sebab jiwa kita meliputi pikiran, perasaan dan kehendak. Ini adalah kondisi orang yang jiwanya tak stabil atau tak menyatu satu sama lainnya. Kondisi jiwa ”Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan” (Yakobus 1:7). Sebab bila kita ingin mendapatkan sesuatu dari Tuhan harus dengan iman, harus dengan jiwa yang tidak berubah-ubah.
Orang yang jiwanya berubah-ubah dikatakan oleh pepatah Jawa: ”isuk kedele sore tempe” [pagi kedelai sore tempe] alias mencla-mencle. Hari ini berkata bahwa janji Allah ”Ya” dan ”Amin” tetapi tidak lama kemudian meragukannya. Itu berarti jiwanya tidak sinkron dengan rohnya sebab roh dan jiwa kita harus sepadan atau sinkron. Bila kita mendengar janji-janji Allah sebenarnya hati atau roh kita langsung mempercayainya tetapi belum tentu dengan jiwa kita. Ingat percaya itu di hati atau roh tetapi kebimbangan atau keragu-raguan itu ada di dalam pikiran [jiwa].
Sebenarnya yang harus kita lakukan dengan jiwa kita saat mendengarkan firman Allah adalah ”terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu” (Yakobus 1:21). Dengan kata lain manut saja. Sebagai anti menerima firman dengan lembut kebanyakan dari jiwa kita adalah protes atau tidak percaya. Mengapa? Karena jiwa kita masih bersifat duniawi atau kedagingan sedangkan firman Allah atau janji-janji Allah bersifat rohani. ”Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan [pikiran – bagian dari jiwa] hal-hal yang dari daging [pikiran yang bersifat duniawi]; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh [pikiran yang bersifat rohani]” (Roma 8:5). Selama jiwa kita masih belum diperbaharui dengan firman Tuhan, maka jiwa kita akan menjadi penghambat iman kita terealisasi atau terwujud.
Renungan: Serasikan jiwa Anda dengan roh Anda. Bila tidak maka dunia, persoalan atau masalah yang ada di sekitar Anda akan terus meneror jiwa Anda sehingga Anda tidak lagi memilih percaya firman Allah dengan hati. Orang yang lurus hatinya adalah orang yang paling tenang hidupnya.
No comments:
Post a Comment