Tuesday, December 8, 2015

Maksimalkan

Ayat Bacaan : Yakobus 1:26, 27; Mazmur 34:15 “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah  ibadahnya. Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia” (Yakobus 26, 27).

Memasuki bulan Desember kegiatan yang bernuansa Natal mulai nampak kelihatan di gereja-gereja dan persekutuan-persekutuan doa. Kaum bapak dan kaum ibu mulai latihan paduan suara; kaum muda mulai sibuk membuat hiasan dan membungkus kado; kaum remaja latihan menari; dan sekolah minggu latihan drama.

Desember sudah menjadi bulan yang spesial, pohon natal mulai di pasang dengan lampu hiasannya dan pernik-pernik mainan, toko-toko mulai menawarkan produk hiasan natal yang baru. Lagu-lagu natal mulai mengalun di rumah-rumah, beberapa toko buku, toko musik, swalayan  dan plaza. 

Berbeda dengan bulan sebelumnya, bulan Desember sering dijadikan sebagai bulan untuk rajin beribadah. Beberapa orang mulai lebih aktif dari sebelumnya, aktif mengikuti ibadah, kegiatan tengah minggu, mulai dari komsel sampai doa malam. Itu memang bagus dan sebaiknya demikian tetapi kita bukan hanya aktif melakukan kegiatan saja, tetapi lebih dituntut apakah kita bisa mengerjakan apa yang kita dengar dari firman ataukah tidak, apakah karakter kita berubah, bagaimana perhatian kita kepada sesama, adakah hati kita dipenuhi dengan kelemahlembutan, atau masihkah dalam diri kita masih terselip iri hati dengki  atau tersimpan suatu amarah. Bisakah kita menghargai orang lain? Bagaimana kepedulian kita kepada orang lain?

Ibadah yang kita kerjakan adalah ibadah yang berpusat kepada Allah, semua kemuliaan hanya bagi Dia. Akan menjadi sia-sia apabila ibadah yang sedang kita  kerjakan semata-mata sebagai upaya untuk mencari dan meningkatkan popularitas, untuk mencari keuntungan, atau untuk mencari pujian. Atau kadang-kadang muncul suatu persaingan yang tidak sehat, sampai-sampai satu sama lainnya secara tidak sadar bisa saling menjatuhkan. Gosip mulai jalan, memakai kelemahan teman untuk meninggikan dirinya, fitnahan mulai diluncurkan. Orang yang seperti ini sia-sia beribadah, sebab ia tidak memaksimalkan ibadahnya, ia hanya memperalat ibadah untuk kepentingan diri sendiri, ia sedang menipu dirinya sendiri.

Di akhir zaman Tuhan akan katakan, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan  masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga” (Matius 7:21).

Renungan: Mengobral kata-kata tanpa makna adalah suatu kesia-sian, tetapi akan lebih sia-sia  orang yang mengetahui kebenaran namun tidak satupun yang dikerjakannya. Kerjakan ibadah dengan segenap hatimu!

No comments:

Post a Comment