Thursday, December 17, 2015

Mendinginkan Suasana

Ayat Bacaan Yakobus 3:13-18; Mazmur 19:8 “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik” (Yakobus 3:17)

Kekacauan bukanlah lagu lama yang kita dengar, apalagi kalau menyangkut bumi pertiwi, sepertinya kekacauan itu tidak pernah berhenti dan sulit dihentikan. Pembunuhan, percideraan dan perselisihan, amuk masa hingga hari ini terus terjadi. Beberapa orang pemimpin yang merasa dirinya berhikmat, malah memperkeruh suasana dan membuat keadaan semakin meruncing dan bertambah kacau. Bukan itu saja dipermukaan satu dengan yang lainnya saling menyalahkan, saling menuding, saling menuduh dan saling melemparkan tanggung jawab. Mau menang sendiri begitu nampak sekali mewarnai kekacauan yang sedang terjadi.  Sementara masyarakat awam yang tidak tahu apa-apa kadang turut dilibatkan.

Hikmat dari dunia adalah suatu kebodohan bagi Allah (1 Korintus 3:19), sebab hikmat dunia selalu mendatangkan kekacauan dan penuh dengan iri hati dan mementingkan diri sendiri. Tetapi di tengah-tengah kekacauan ini hikmat Allah adalah sumber jawaban dan sangat dibutuhkan, seperti yang diteguhkan dalam 1 Korintus 2:7, “Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi  dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan  Allah bagi kemuliaan kita.”

Persoalan dan tantangan yang kita hadapi hari demi hari bertambah berat, karenanya dibutuhkan hikmat Allah. Dan hikmat yang dari atas, pertama-tama: Murni, artinya tidak termotivasi untuk mementingkan diri sendiri, tetapi termotivasi karena mengasihi Allah; pendamai, maksudnya hikmat itu bukan untuk memecah belah satu dengan yang lainnya, atau mengkambinghitamkan orang lain, melainkan membawa  damai, dan memberikan jawaban; peramah, hikmat itu disampaikan dengan santun bukan dengan arogan; penurut, mudah ditegur, mudah mengakui kesalahan, dan tidak melemparkan tanggung jawab, mau diarahkan dan dibimbing mejadi semakin baik; penuh belas kasihan dan buah yang baik, setiap tindakan yang dikerjakan selalu memperhitungkan faktor kasih, dan tidak sembarangan bertindak, memperhatikan keberadaan orang lain dan menghormatinya; tidak memihak, artinya bertindak bijaksana dan adil, serta tidak pilih kasih; tidak munafik, apa yang kita kerjakan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan karakter kita mencerminkan kemuliaan Tuhan.

Renungan: Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat Allah sanggup mendinginkan suasana. Berbahagialah orang yang membawa damai.

No comments:

Post a Comment