Thursday, August 13, 2015

Percaya dan Setia



Ayat bacaan : 2 Timotius 1:11-13; Kejadian 28:12-15 “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan –Nya kepadaku hingga hari Tuhan” (2 Timotius 1:12).

Seorang wanita muda dari keluarga yang kaya-raya dan lahir dari keluarga yang tidak percaya kepada Tuhan. Dan wanita muda ini adalah anak tunggal yang sangat disayangi dan sangat dicintai oleh keluarga tersebut. Orang tua ini mendidik anaknya dengan sebaik-baiknya dan merawatnya hingga ia bertumbuh dewasa menjadi gadis yang sangat cantik dan pandai. Dan gadis ini menjadi kebanggaan orang tuanya. Tetapi apa yang terjadi ketika gadis ini berusia dua puluh lima tahun? Ia menjalin hubungan dengan seorang anak muda yang tidak seiman dengannya. Pemuda itu dari keluarga yang sederhana, tetapi hidupnya penuh dengan sukacita yang dari Allah, sebab ia sungguh-sungguh mencintai Tuhannya.

Mereka bertemu dan menjalin suatu persahabatan karena mereka bekerja di suatu perusahaan yang sama. Dan si wanita tidak hanya tertarik dengan pemuda tersebut, tetapi juga tertarik dengan Kristus yang telah mati bagi umat manusia. Ia pun menerima Yesus tak lama setelah itu. Singkat cerita mereka memutuskan untuk meresmikan hubungan mereka. Sayang, pihak wanita menentang keras hubungan tersebut. Mereka mengancam untuk mengusirnya jika ia tidak kembali kepada kepercayaannya yang lama. Rupanya anaknya tersebut sudah terlanjur jatuh cinta, tidak hanya kepada pemuda itu, tetapi lebih-lebih lagi kepada Yesus. Ia rela diusir dari keluarganya asalkan Kristus tetap di hatinya! Saudara, kisah ini bisa menjadi bahan renungan kita.

Ketika kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan dan mau setia kepada-Nya sampai kedatangan-Nya nanti, apakah perkataan yang kita ucapkan itu dapat kita pegang sampai akhir hidup kita? Apa yang akan kita lakukan saat kita mendapati bahwa yang terjadi dalam kehidupan kita ternyata tidak seperti yang kita harapkan? Rumah tangga kita, anak-anak kita, ekonomi kita, dan usaha kita gagal. Bila demikian masihkah kita setia kepada-Nya? Atau bila kita diancam untuk diusir dari rumah bila kita tidak kembali pada keyakinan kita yang lama, masihkah kita mengasihi Yesus? Beranikah Anda berkata seperti Paulus yang memiliki keyakinan bahwa “….Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan –Nya kepadaku hingga hari Tuhan”?

Renungan: Ingat bahwa Dia berkuasa memelihara kehidupan Anda. Dan biarlah kita tetap setia dan tekun dalam melayani Dia, karena ada upah yang akan Ia berikan bagi mereka yang percaya dan setia kepada-Nya. Amin. 

Ketika kita berkata kita mengasihi-Nya, berarti kita harus setuju atas apa yang Ia izinkan terjadi dalam kehidupan kita, sekalipun itu sesuatu yang tidak kita harapkan.

No comments:

Post a Comment