Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya” (1 Korintus 9:24).
Sebagian olah raga yang digemari banyak orang adalah olah raga yang mengandung permainan, misalnya : bulu tangkis, tenis meja atau sepak bola. Hal ini tanpa dipaksa orang mau melakukan olah raga ini. Beda dengan lari! Memang setiap olah raga ada larinya, tetapi tidak ada yang paling menjemukan kecuali berlari dan terus berlari memutari bangunan yang bertembok putih. Seandainya ditentukan untuk olah raga lari maka yang dipilih lari 100 meter, karena bisa dilakukan dengan ngebut dan singkat daripada lari maraton yang amat melelahkan dan….. membosankan!
Perjalanan iman adalah perjalanan panjang yang dilakukan sambil berlari, tepat seperti yang firman Tuhan katakan, “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya” (1 Korintus 9:24). Kepada Timotius, Paulus berkata, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil dan telah engkau ikrarkan ikrar yang benar di depan banyak saksi” (1 Timotius 6:12).
Semua orang benar wajib mengikuti “lomba lari” ini. Tetapi bedakan lomba lari ini dengan yang Anda saksikan dalam pertandingan di olimpiade. Di dalam pertandingan iman ini Anda tidak saling kebut dengan rekan Anda, sebab Anda mempunyai jalur sendiri. Artinya panggilan kita berbeda-beda sesuai dengan kasih karunia Allah. Jadi Anda wajib berlari dalam panggilan Anda dan mencapai garis akhir dengan baik.
Kalau kita di dunia ini begitu menggebu untuk mencapai target-target dalam hidup kita, misalnya keuangan kita yang ditargetkan harus meningkat tahun depan, mengapa kita juga tidak menetapkan target bagi perkara-perkara rohani? Misalnya memenangkan jiwa. Kalau tahun ini kita baru “mengail” dan mendapatkan satu jiwa (atau belum sama sekali??), maka tahun depan harus meningkat berlipat-lipat. Kalau “pendapatan” kita untuk mendapatkan jiwa-jiwa ini tidak naik, maka Anda kita disebut sebagai pelari maraton yang berlari di tempat. Tuhan tidak pernah melatih kita untuk berlari di tempat! kita harus maju dan terus berlari hingga mencapai garis akhir dengan baik.
Sekarang saatnya bagi kita untuk berlari dengan penuh semangat dalam hal perkara-perkara rohani. Apa saja yang membebani kita buanglah! Evaluasilah apakah yang membuat rohani kita mandek dan berlari di tempat. Amin.
No comments:
Post a Comment