Ayat Bacaan : Yosua 2:1-24; Ibrani 11:31
“Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: "Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho." Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ”
(Yosua 2:1).
Cerita ini merupakan suatu contoh kasih karunia Allah yang melimpah kepada manusia yang seharusnya tidak layak menerimanya. Ada 3 keberatan yang perlu kita pahami mengenai Rahab ini:
Pertama, dia adalah seorang Kanaan, bukan Yahudi. Bangsa Kanaan adalah musuh. Menurut firman Tuhan mereka seharusnya dimusnahkan.
Kedua, dia adalah seorang wanita. Sebuah doa orang Yahudi kuno adalah seperti berikut, “Aku bersyukur Tuhan, sebab aku tidak dilahirkan sebagai orang kafir atau pun seorang wanita.” Jadi wanita menduduki kelas sekunder pada tatanan sosial masyarakat Israel. Jadi Rahab tidaklah terkecuali.
Ketiga, dia adalah seorang pelacur.
Jadi betapa parahnya sebenarnya kedudukan Rahab di mata orang Israel. Mereka sama sekali tidak layak untuk mendapatkan sesuatu yang baik. Namun sekali lagi ini adalah pengecualian, sebab kasih karunia Allah melebihi segalanya.
Rahab memang patut mendapatkan gelar “sangat tidak layak”. Tetapi bukankah perbuatan Rahab yang melepaskan dia dari gelar itu? Penulis Ibrani berkata, “Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik” (Ibrani 11:31). Anehnya, bukannya Yosua yang dipuji-puji karena perbuatan imannya dalam “penghargaan” terhadap manusia iman dalam Ibrani 11 ini. Bukan berarti bahwa Yosua tidak beriman, namun Rahab mempunyai perhatian khusus dalam hal ini. Jadi pada saat ia menyembunyikan para pengintai itu, dia menunjukkan iman yang sebenarnya. Imannya telah ditunjukkan dengan perbuatannya, yakni menyembunyikan para pengintai tersebut. Karena iman itu, maka kasih karunia Allah melimpah-limpah dalam hidupnya dan dalam keluarganya. Ingat, dia menjadi salah satu dari nenek moyang yang menurunkan Kristus secara manusia.
Renungan:
Bila iman dinyatakan, maka kasih karunia Allah akan melimpah-limpah. Jadi hiduplah di dalam iman dan bersikap di dalam iman, maka kasih karunia Allah akan melimpah-limpah dalam hidup Anda.
Hanya ada satu hidup dalam diri kita, yakni hidup di dalam iman.
No comments:
Post a Comment