Wednesday, November 4, 2015

Iman Abraham

Ayat bacaan : Ibrani 11:8-10; Kejadian 12:1-4 “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui” (Ibrani 11:8).

Abaraham disebut bapa orang percaya. Hidupnya penuh dengan keberanian mempraktekkan iman. Melalui hamba Tuhan ini kita dapat belajar mengenai iman. Saya akan bagikan kepada Anda bagaimana membangun kehidupan iman melalui kehidupan Abraham:

Pertama, apabila Allah memanggil, taatilah. Tidak mudah saudara untuk taat bila perintah Tuhan itu bertentangan dengan pikiran dan logika kita. Bayangkan, Allah memberikan perintah supaya ia meninggalkan negeri dan sanak saudaranya lalu pergi ke negeri yang ia sendiri tidak tahu (Kejadian 12:1). Ah, Tuhan ini ngaco aja! Masakan aku harus gambling dengan melakukan hal itu? Tetapi itu bukanlah yang ada di benak Abraham. Dan ayat 4 menyatakan bahwa Abraham pergi tanpa berbantah-bantahan, sebab ia percaya Allahnya.

Kedua, apabila Allah seperti berlambat-lambat, tunggulah dengan sabar. Allah sudah berjanji untuk menjadikan ia sebagai bangsa yang besar, tetapi sampai tua ia masih belum punya anak. Apakah Allah salah berfirman? Atau Allah sudah pikun sehingga Ia lupa dengan janji-Nya? Tidak sama sekali! Sebab pada waktunya, ketika Abraham memang sudah tua, Ia menggenapi janji-Nya dengan memberikan Ishak. Tidak ada kata “terlambat” bagi Allah kita.

Ketiga, apabila Allah menguji imanmu, percayalah sepenuhnya kepada-Nya. Kita semua tahu bahwa Ishak pastilah anak kesayangan Abraham, sebab dia adalah anak satu-satunya dari istri yang sah. Tetapi Allah memintanya! Mungkin kalau Tuhan meminta nyawanya sekalipun masih lebih mendingan daripada harus mengorbankan Ishak, anak kesayangannya! Tetapi sekali lagi Abraham percaya dan ia melakukannya.

Keempat, apabila Allah menolongmu, persembahkan korban syukur. Beberapa kali tercatat setiap kali Allah campur tangan di dalam hidupnya Abraham selalu mendirikan mezbah bagi Tuhan (Kejadian 12:6, 7; Kejadian 21:1, 7-8; Kejadian 22:13, 14). Abraham selalu mengekspresikan ucapan syukurnya dalam bentuk persembahan itu. Dan ini seharusnya dilakukan oleh orang percaya yaitu menaikkan persembahan syukur selalu kepada Allah.

Renungan: Kita semua disebut keturunan Abraham (Galatia 3:29). Ada pepatah yang berkata “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Jadi kalau Abraham hidup di dalam iman, maka anak-anaknya harus demikian juga. Iman itu memandang ke depan, melihat Allah bekerja.

No comments:

Post a Comment