Ayat bacaan : Ibrani 11:11, 12; Kejadian 18:11, 12 “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia” (Ibrani 11:11).
Abraham berumur 100 tahun dan Sarah berumur 90 tahun saat Ishak, anak yang dijanjikan itu lahir. Bayangkan, sampai usia seuzur itu barulah janji Allah dinyatakan. Tetapi mereka tetap percaya, meskipun pada mulanya Abraham tertawa (Kejadian 17:17) dan Sara juga tertawa terhadap janji Allah tersebut, sebab ia “mati haid” alias menopause (Kejadian 18:11, 12). Mereka berdua sepakat untuk tertawa terhadap janji Allah yang tidak masuk akal. Tetapi setelah itu mereka berhasil menguatkan imannya dan percaya bahwa apa yang difirmankan Tuhan pasti akan digenapi.
Sekarang kita berbicara mengenai kemustahilan. Sebagai orang percaya kita harus belajar untuk berjalan di dalam dunia kemustahilan sambil memperagakan kuasa Allah dinyatakan dalam hidup kita. Cobalah Anda pikirkan, apakah yang menjadi kasus yang mustahil dalam hidup Anda. Apakah Anda harus melunasi hutang yang begitu mencekik leher Anda dan sepertinya sampai tujuh keturunan pun Anda tidak akan dapat melunasinya? Atau Anda sedang menghadapi penyakit yang dokter sendiri sudah angkat tangan setinggi-tingginya? Atau Anda menghadapi gunung yang tinggi dalam hidup Anda yang tidak mungkin Anda pindahkan? Anda menghadapi kasus yang sama dengan Abraham. Apakah Anda sedang tertawa mendengar seorang berkata kepada Anda, “Jangan takut Allah sanggup menolongmu!” Apakah ini sekedar perkataan penghiburan atau basa-basi?
Tergantung Anda. Kalau Anda menguatkan kepercayaan, Allah akan menolong Anda untuk bisa sampai kepada level di mana iman itu mampu menggapai mukjizat dari Allah. Bergabunglah dalam klub orang-orang yang merindukan mukjizat. Dalam klub ini Allah mau kita belajar untuk percaya kepada-Nya. Dunia sekuler mengajarkan apa yang dinamakan “The Power of Optimism”. Mereka mengajarkan metode yang menurut mereka dapat membantu orang-orang untuk meraih sukses dalam hidup ini. Menurut Max Moore, pengarang buku “Optimis yang Dinamis”, para optimistis mempunyai fokus yang selektif; mereka menekankan aspek hidup yang menyenangkan dan kostruktif. Mereka menahan diri dari keluhan dan pertanyaan-pertanyaan. Para optimistis melihat kesempatan yang besar pada dunia ini. Lalu bagaimana dengan orang percaya? Bukankah mereka mempunyai “metode” yang lebih baik (baca: iman) daripada mereka?
Renungan: Hentikan tertawa Anda terhadap janji-janji Allah dan mulailah percaya kepada Allah. ingatlah kembali setiap janji Allah terhadap kebutuhan Anda. Simpan itu di dalam hati Anda dan percayalah! Iman itu percaya kepada Allah dan menanti dengan sabar terhadap penggenapannya.
No comments:
Post a Comment