Ayat Bacaan : 2 Samuel 3:22-39; 1 Petrus 5:4
“Kemudian berkatalah raja kepada para pegawainya: "Tidak tahukah kamu, bahwa pada hari ini gugur seorang pemimpin, seorang besar, di Israel”
(2 Samuel 3:38)?
Suatu ketika ada suatu berita melalui media cetak mengenai peti mati nyentrik dengan disain warna khas klub sepakbola, sesuai dengan yang diinginkan. Adalah direktur pemakaman Novis, Bernd Kremer, yang menawarkannya. Pemesan bisa memilih corak dan warna sesuai dengan klub yang didukungnya. Kalau misalnya Borussia Dortmund, ya warna kebanggaannya adalah kuning. Menurut koran itu juga harga satu peti mati sekitar 20 juta.
Manusia memang makhluk yang kreatif. Bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya mungkin untuk mati dengan mendiami sebuah peti mati antik. Apakah orang yang mati menikmati “rumah baru” itu? Saya yakin dia tidak tahu apa-apa. Ini hanyalah ekspresi dari emosi manusia untuk memberikan yang terbaik kepada orang yang dikasihinya.
Yang penting bukan peti matinya, tetapi apa yang kita lakukan selama hidup dan bagaimana catatan hidup kita menjelang mati. Abner adalah orang yang berpengaruh di pemerintahan Saul. Dia telah berusaha untuk mengembalikan kejayaan Saul dengan mengambil anak Saul, Isyboset, dan menjadikan dia raja atas seluruh suku Israel, kecuali Yehuda (2 Samuel 2:8-11). Di samping itu Abner pernah meniduri gundik Saul yang bernama Rizpa (3 Samuel 3:7).
Tidak ada catatan bagus mengenai Abner. Dia seharusnya peka terhadap rencana Allah yang menjadikan Daud sebagai raja. Dia memaksakan diri untuk tetap menjadikan Saul dan keturunannya sebagai keluarga.
Sekarang yang terpenting dalam hidup ini adalah mengerti kehendak Allah dan terlibat di dalam rencana Allah. Jangan melawan arah! Artinya jangan melawan kehendak Allah atau hidup Anda akan berakhir dengan tragis. Pertanyaan penting lainnya adalah apakah kualitas hidup kita bagus? Apakah kita hanya mementingkan kuantitas saja artinya hidup lama saja?
Renungan:
Jadikanlah hidup kita berarti. Sebelum kita semua masuk ke dalam peti mati, pastikanlah bahwa hidup kita telah menjadi alat bagi kemuliaan Allah.
Yang terpenting adalah kualitas hidup, bukan kuantitas.
No comments:
Post a Comment