Ayat Bacaan : 2 Samuel 9:1-13; 1 Petrus 5:10
“Berkatalah Daud: "Masih adakah orang yang tinggal dari keluarga Saul? Maka aku akan menunjukkan kasihku kepadanya oleh karena Yonatan” (2 Samuel 9:1).
Kisah tentang Mefiboset adalah cerita tentang pemulihan. Dia baru berumur 5 tahun ketika keluarganya jatuh. Kakeknya, Saul, dan ayahnya, Yonatan, gugur di medan peperangan. Sebuah keluarga baru menjadi pengganti. Daud telah diurapi menjadi raja.
Mefiboset adalah satu-satunya keluarga Saul yang tersisa. Hidupnya dalam kondisi bahaya sebab adalah hal yang biasa seorang raja yang menaklukkan akan menghabiskan sisa-sisa keluarga musuhnya. Tetapi kasus ini lain. Dan kita tahu juga bagaimana Mefiboset akhirnya menjadi cacat sebab pengasuhnya menjatuhkannya.
Hari ketika Mefiboset jatuh adalah produk dari sebuah kegagalan. Kemuliaan yang pernah dimilikinya bersamaan dengan masa jaya Saul hilang dalam sekejap. Itu pula yang terjadi dengan Adam dan Hawa. Mereka juga produk dari sebuah kegagalan setelah mereka jatuh di dalam dosa. Mereka harus menanggung malu, bersama dengan semua keturunannya. Tidak ada lagi kemuliaan. Tidak ada lagi nyanyian merdu. Tidak ada lagi sukacita. Mereka menjadi cacat dan di bawah kutuk.
Hari ketika Mefiboset diangkat adalah ekspresi dari kasih sang raja Daud. Keluhuran Daud sebagai raja yang dipilih oleh Allah telah dibuktikan di sini. Yesus juga melakukan hal yang sama kepada manusia yang berdosa. Dia turun ke bumi yang sudah rusak ini. Kalau boleh dikatakan bumi ini sama dengan sampah yang begitu busuk baunya. Banyak kuman dan bakteri! Tetapi Yesus harus rela mengotori diri-Nya untuk menjangkau manusia. Dia dijadikan sama seperti manusia, meskipun Dia tidak berbuat dosa. Jika bukan karena kasih, Dia tidak akan melakukannya.
Hari ketika Mefiboset dipulihkan itulah puncak dari kasih karunia. Dia makan semeja dengan Daud, orang yang dulunya diburu mati-matian oleh kakeknya. Sebenarnya tidak pantas seorang keluarga yang memusuhinya makan semeja. Tetapi sekali lagi dibuktikan bahwa kasih karunia melanggar berbagai pembatas. Jika bukan karena kasih karunia Allah, kita masih menjadi milik Setan. Tetapi sekarang kita sudah dijadikan anak-anak Allah. Karena kasih karunia Allah, Mefiboset memperoleh kembali apa yang dulu menjadi milik keluarganya. Dia dipulihkan!
Renungan:
Lihatlah betapa hebatnya kasih karunia Allah. Adam dan Hawa memulai dengan kegagalan, tetapi Kristus menggantikannya dengan rela mati di kayu salib. Kasih karunia Allah dicurahkan kepada kita. Iblis tidak suka dengan berita kasih karunia Allah ini. Karena itu terimalah dengan sukacita kasih karunia Allah dalam hidup Anda.
Kita adalah mantan gelandangan yang kini duduk semeja dengan Sang Raja.
No comments:
Post a Comment