Ayat bacaan : 1 Timotius 3:8-10; Ulangan 13:4
“Melainkan orang yang memelihara rahasia iman dalam hati nurani yang suci”
(1 Timotius 3:9)
Ada seorang penasehat hukum, yang meninggalkan profesinya sebagai pengacara dan kemudian terjun dalam ladang pelayanan. Ketika ditanya kenapa ia meninggalkan profesinya ia menjawab bahwa hal itu tidak sesuai dengan hati nuraninya. Ia merasa tertekan dengan pekerjaan itu, lalu dengan tekad yang bulat ia meninggalkan lahan yang sebenarnya menghasilkan duit banyak. Bayangkan betapa gampangnya untuk mendapatkan puluhan juta dalam satu perkara dibandingkan menjadi seorang hamba Tuhan, yang notabene berharap dan hidup dari iman saja. Jika seorang Kristen yang sudah bertumbuh di dalam Tuhan dan mengenal Allah lebih dalam lagi, ia akan melakukan yang dunia tidak akan pernah lakukan.
Mungkin banyak orang yang mencemooh dia, mengatakan bodoh dan banyak hal yang mereka ungkapkan. Tetapi orang kristen yang bertumbuh tahu apa yang terbaik dalam hidupnya, yaitu menyenangkan hati Tuhan dengan cara memelihara hati yang suci. Bukan berarti menjadi seorang pengacara itu berdosa, tetapi apakah tugas sebagai pengacara itu dilakukan dengan benar? Ketika seorang pengacara menangani perkara, dan barang bukti kurang lengkap untuk membela kliennya, apakah ia mendiamkan saja? Oh tidak. Ia akan segera merekayasa barang bukti baru yang “aspal” (asli tapi palsu)? Atau sidang tinggal satu kali lagi, dan dipastikan ia akan gagal memenangkan kliennya, kecuali satu….. “mendekati” sang hakim dan “menebalkan” amplop!
Demikian juga dengan profesi yang lainnya. Bukan rahasia lagi bila di dalam perusahaan banyak ditemukan kolusi yang mau tidak mau setiap unsur terkait (termasuk orang-orang di dalamnya) terlibat. Ini memang membuat orang Kristen mati kutu. Ia seperti berhadapan dengan buah simalakama. Maju salah. Mundur salah. Mau terus, bertentangan dengan iman Kristen. Mau mundur, berarti tidak ada penghasilan. Kalau Anda mau berlaku benar, ya tinggalkan segala sesuatu yang menindas hati nurani Anda. Untuk menjadi seseorang yang senantiasa jujur di hadapan manusia dan Allah bukanlah hal yang mudah. Tetapi kalau Anda mau menjaga hati nurani Anda yang murni Anda harus berani melawan segala ketidakbenaran yang bertentangan dengan hati nurani Anda.
Renungan:
Di tengah dunia yang marak dengan kecemaran ini anak Tuhan dituntut untuk hidup dalam kekudusan. Tuhan mau kita memisahkan diri dari perbuatan-perbuatan kecemaran, supaya nama-Nya dimuliakan.
Kalau mau menyenangkan hati Tuhan, ucapkan “selamat tinggal” kepada perkara-perkara duniawi.
No comments:
Post a Comment