Ayat bacaan : 1 Timotius 1:12-14; Mazmur 117:2
“Aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman”
(1 Timotius 1:13).
Seorang petani mempunyai semacam baling-baling untuk mengetahui arah angin. Salah satu dari panah itu tertulis “Allah itu kasih”. Seorang pejalan kaki yang kebetulan melintas tertarik dengan tulisan itu lalu ia bertanya kepada si petani, “Apa artinya itu? Apakah Anda pikir bahwa kasih Allah itu berubah-ubah?” “Oh sama sekali tidak, “kata si petani, “Yang aku maksudkan adalah kasih Allah itu tidak berubah ke mana saja angin bertiup.”
Saudara, kasih Allah itu tidak berubah! Dalam situasi apapun, kasih-Nya tetaplah sama. Jangan membandingkan kasih Allah seperti kasih yang Anda miliki. Kalau kasih Anda itu pasti ada imbalannya. Karena dia berbuat baik kepadaku, maka saya mengasihinya. Karena Dia mencintai aku, maka aku mengasihinya. Karena dia telah menolong keluargaku, maka aku mengasihinya. Kalau Anda disakiti, apakah Anda masih mengasihinya? Tidak demikian dengan kasih Allah.
Meskipun Anda sering menyakiti hati-Nya kasih Allah tidak akan berubah. Berbicara mengenai kasih Allah tidak akan pernah ada habisnya. Anda bisa menyiapkan jutaan lembar kertas halaman dan jutaan liter tinta, toh masih belum juga mampu menceritakan kasih Allah dengan lengkap. Kasih Allah itu lebih luas dari samudera, lebih dalam dari lautan, lebih tinggi dari langit, dan lebih indah dari pelangi. Paulus bisa merasakan sendiri bagaimana kasih Allah yang besar itu dilimpahkan dalam hidupnya. Dia adalah salah satu dari sekian banyak manusia yang dapat memahami kasih Allah. Dia dahulu adalah seorang penghujat dan pembenci Yesus, tetapi Allah sama sekali tidak sakit hati. Allah masih saja mengasihinya sampai suatu saat Ia menampakkan diri kepada Paulus yang akhirnya membawa pertobatan baginya.
Kalau saat ini Anda mengira bahwa Allah berhenti mengasihi Anda, Anda salah besar. “Tapi saya sudah melakukan banyak kesalahan dan dosa saya amatlah besar, bagaimana mungkin Ia masih mengasihi saya?” Buanglah jauh-jauh pikiran seperti itu, sebab sesungguhnya Dia masih mengasihi Anda. Dia masih membuka lebar-lebar pintu kasih karunia itu.
Renungan:
Kita hidup karena kasih karunia Allah. Kalau Allah berhenti mengasihi manusia, matahari juga akan berhenti berputar, dan segala makhluk di jagad ini akan berhenti hidup juga. Tetapi sesungguhnya kasih Allah itu hebat atas kita (Mazmur 117:2) dan Ia tetap melanjutkan kasih-Nya kepada kita.
Hanya karena kasih Allah, maka dosa dan maut dapat dikalahkan.
No comments:
Post a Comment