Monday, January 4, 2016

Jangan Turuti Hawa Nafsumu!

Ayat Bacaan : 1 Petrus 1:13-16; Kejadian 25:34 “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu” (1 Petrus 1:14).

“Saya sedang mabuk….. Semuanya terjadi begitu saja dan saya sadar setelah semuanya terjadi.” Itulah sepenggal kalimat penyesalan dari seorang ayah beranak tiga. Akhirnya ia dituntut harus menikahi wanita yang telah digaulinya itu yang ternyata hamil beberapa bulan kemudian.

Itulah kira-kira cuplikan adegan dari sebuah drama yang menyakitkan. Dan justru para pelakunya banyak dari kalangan anak-anak Tuhan. 

Saya teringat dengan Esau. Ketika ia sedang kelaparan ia dipenuhi dengan nafsu yang bergelora. Akal sehatnya hilang. Logikanya tidak jalan. Pikirannya tidak dipenuhi lagi dengan hikmat. Akhirnya ia melakukan tindakan bodoh dan paling bodoh dalam hidupnya. Ia menjual hak kesulungannya kepada Yakub dengan sepiring kacang merah. Dan penyesalan selalu datang terlambat. Setelah semuanya terjadi, barulah ia berkata, “Ah kenapa aku melakukan hal sebodoh ini……?” (baca: Kejadian 25:19-34).

Dunia yang kita tempati ini penuh dengan hawa nafsu. Teman-teman kita mengumbar hawa nafsu tanpa ada rasa takut dan perasaan bersalah. Betapa seringnya kita tergoda dan hendak melakukan hal-hal yang rendah juga. Berapa lama kita akan bertahan di tengah godaan yang silih berganti menghampiri kita?

Ayat berikutnya dikatakan, “…. hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.”

Kekudusan adalah syarat mutlak terjalinnya hubungan yang manis antara Allah dan manusia. Allah memisahkan Anda dari dunia ini dengan maksud supaya Anda benar-benar menjadi manusia yang berbeda. Allah memiliki rencana-rencana yang hebat atas hidup mereka yang telah dipisahkan dari dunia ini.

Berjalan di dalam ketaatan bukanlah hal yang mudah. Anda yang mempunyai anak, tentunya Anda punya pengalaman pahit saat mereka berlaku tidak taat kepada Anda. Ya, anak kecil pun dapat berlaku demikian. Dan Allah kita mengalami hal yang sama. Kita sebagai anak-anak-Nya kerap berlaku tidak taat. 

Renungan: Kita berjalan di bumi ini bukanlah berjalan sendirian. Allah mengirimkan Sang Penolong, yaitu Roh Kudus, untuk memimpin, membimbing, dan menguatkan kita. Kalau begitu Anda bisa meminta-Nya supaya Anda mampu berjalan di dalam ketaatan. Penyesalan selalu datang terlambat, tetapi anehnya selalu dilakukan berulang-ulang

No comments:

Post a Comment